Kamis, 29 Oktober 2009

“Alasan saya memilih untuk kembali ke kota ini adalah kamu…”



…sepertinya tulisan ini akan mengarah kearah kenangan-romantisme-sentimentil nan dramatis sama mantan…



Setahun di Malang dalam kondisi under-pressure-akut membawa saya kembali ke kota ini_Jember yang Tertib, Bersih, Indah, dan Aman a.k.a Jember Terbina. Kalo dihitung mulai dari SMA sampe sekarang kurang lebih udah tujuh tahun saya numpang hidup disini. Nah, kalo kata orang umur 15-21 tahun itu masa remaja, artinya saya melewati masa remaja di kota ini. Saya mulai naksir cowok, first love sama cowoknya cewek lain [tragis!], mulai ngerti dandan [korban malpraktek mbak-mbak kost, huwwaa…], mulai berani pacaran [ehm…], mulai berani pulang malem [inget mukanya ibu kost…ngeri!], juga mulai coba-coba bolos sekolah&les… whoaa, masa-masa khas remaja itu…

Cerita tentang Jember memang tidak bisa lepas dari seseorang yang sekarang saya sebut “mantan”. Enam tahun dari total tujuh tahun tinggal di kota ini, saya jalani bersamanya. Bukan waktu yang sebentar memang, tapi saat ini saya merasa enam tahun sesingkat kedipan mata. Saat semua kisah saya&mantan berakhir, yang saya inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari kota ini. Sepertinya waktu itu saya terjangkit “broken heart syndrome”, dengan gejala: takut keluar kosan [ehm, menyadari kelakuan mantan yang agak diluar batas jadi lebih aman stay at home saja], merasa Jember jadi aneh&sumpek [ya iyalah, orang dikosan mulu. Apalagi kalo kamu menghabiskan enam tahun bersama seseorang di Jember yang jalan2&tempat2 cuma itu-itu aja, pasti kamu merasa kayak gitu], ga doyan maem [tapi ngemil mulu, hehe], suka tiba-tiba nangis kalo inget mantan [sebenci-bencinya, kangen itu kadang emang ga tau diri &ga tau waktu], ga berhenti buat menyalahkan diri sendiri [“why me, God? why?”]. Ough! So menye-menye pokoknya, Bollywood banget dah [tanpa joget-joget, sumpah!]… tapi itulah proses sakit hati yang harus saya lewati. Dan entah kenapa sangat saya nikmati, saya rasakan sungguh-sungguh...”tuh Dya, kayak gini rasanya sakit hati itu! Ga enak kan? Sakit kan? Nah, nikmati tuh! Nangis aja sepuasmu! Rasain bener-bener! Inget-inget gimana rasanya! Biar kamu tau, biar kamu inget, biar kamu bisa ngerti… jadi kamu bisa belajar dari sini, jangan ulangi lagi kesalahan yang sama! Cinta sama bodoh itu bedanya tipiss banget…”.

Well, setelah masa-terpuruk-terjatuh itu terlewati Jember jadi kembali Tertib, Bersih, Indah, dan Aman…saya ga menyesal tinggal disini, saya ga menyesal waktu itu memilih untuk kembali lagi ke kota ini. Alasan saya memilih untuk kembali ke kota ini adalah kamu, dan…itu pada awalnya saja. Karena seiring berjalannya waktu, saya jadi tahu bahwa segala hal yang terjadi dalam hidup ini_sekecil-seremeh-secuil-apapun-itu_ada karena suatu alasan besar yang harus saya cari tahu”.

Apa jadinya kalo saya ga di Jember…mana mungkin saya ketemu mbak-mbak kost yang kayak sodara sendiri [mbak pha, mbak yan, mbak vit, mbak rit, mbak ka, mbak bhek, sept], ketemu teman yang bukan sekedar teman satu es-em-a [dc, mug, nan], ketemu teman kerja yang mengijinkan saya menjadi bagian timnya [ky, nda, sep, yunk, mbak yun, mbak tiw, mas chem, mas ron, fid, pak kam], ketemu teman yang lebih dari sekedar teman sekampus [ndutz, uu, po, tha, ly, vit, ndie]. Berbagi kisah, ilmu, pengalaman, tawa, tangis, sakit, marah, bahagia, harapan, keinginan… dan apalagi yang bisa saya katakan kecuali: ”terima kasih, teman…”.

Saya selalu merasa Jember [juga] rumah saya…tempat melewati sebagian fase perjalanan hidup saya…untuk berproses, belajar, berbagi, berharap, berusaha, bermimpi…

Dan sekarang, ini yang ingin saya katakan:

“…karena ini bukan tentang kamu saja.”


Love Dya

Jumat, 09 Oktober 2009

Kiseki


Seseorang memperkenalkan kata “kiseki” pada saya beberapa bulan yang lalu. “Kiseki itu…kamu”, meski belum tahu artinya apa saya jadi senyum-senyum sendiri [ber-husnudzon kiseki punya arti yang baik]. Oke, yang saya tahu kiseki itu bahasa Jepang, tapi satu-satunya bahasa Jepang yang saya tahu cuma Aishiteru, senasib sama bahasa asing lain yang saya tahu, seperti: Ich Liebe Dich (Jerman), Wo Ai Ni (Mandarin), Ti Amo (Italia), atau Je t’aime (Perancis). Ough! Betapa payahnya saya--harree geennee cuma tahu I Love You doang?!

Dan belum juga saya tahu arti kiseki itu apa, eh si dia malah meminta saya supaya download lagu berjudul Kiseki yang dinyanyikan sama band asal Jepang dengan nama aneh bin lebay, Greeeen! Kenapa band ini lebay? Karena huruf “e” dalam kata Greeeen-nya berlebihan…pake empat “e”!

Sedikit percakapan saya dan si dia waktu mau browsing di youtube:

Saya : green…ijo ya??
Si dia: bukan, tapi greeeen. green yg “e”-nya empat.
Saya : hh?? Banyak bener “e”-nya?
Si dia: iya emang gitu kok tulisannya.
Saya : emang artinya apa? [kali aja dalam bahasa Jepang artinya beda]
Si dia: ga tau juga, biar mantab aja kali!
Saya : …

Singkat cerita, saya dapat juga lagu Greeeen yang judulnya Kiseki, dan “thanks God!” ada english versions-nya. Jadi saya sedikit paham maksud syairnya, meski si Greeeen-nya tetep keukeuh nyanyi pake bahasa Jepang. Lagunya easy listening dan liriknya sweet banget. Dari lagu ini saya jadi tahu kalo kiseki is miracle. Menurut si dia, semua hal tentang hidupnya adalah kiseki, termasuk saya [and I’m blushing!hhaa]. Berikutnya, saya jadi melting tiap denger lagu ini. And guess what? Accidentally I’m fallin…with the miracle way in a miraculous moment :)

Nah, ini lho lirik lagu Kiseki dari Greeeen [green dengan empat “e”]--in english versions--yang berarti banget buat saya…

Kiseki ( Miracle) by Greeeen


I’ll love you more tomorrow than today

These overflowing emotions won’t stop

Right now I love you so much

I can’t even put it into words


The days you’ve given me accumulate

The days that have passed, the paths we walked together

Whether our meeting was coincidence

Or fate, just the fact that we met

Is a miracle


We walk close together

Making our eternal love tangible

I want to always be smiling by your side

“Thank you” and, ah, “I love you”

Just aren’t enough, just at least let me say

I’m happy


Just having your right hand

Wrapped up

In my left hand

Made me feel your love


We found the little happinesses in each day

In the slow path we walked

Our meeting is just one small thing

In a big world, but just the fact that we met

Is a miracle


Even on days when nothing goes well

Just being together cheers me up

And I can forget the bravado and loneliness

When I’m with you, lala, I can be myself

Just stay with me forever

My beloved


When we fooled around on the way home

That was one of our precious days, too

And when I finally got up the courage to tell you how I felt

The expression on your face was one I’d never seen before

There was a pause, and then you nodded

Our hearts are filled with love


We’re still on our journey

Towards the future that will hopefully continue

For dozens of years

Even if we lose sight

Of tomorrow


We walk close together

Making our eternal love tangible

I want to always be smiling by your side

“Thank you” and, ah, “I love you”

Just aren’t enough, just at least let me say

I’m happy


Even on days when nothing goes well

Just being together cheers me up

And I can forget the bravado and loneliness

When I’m with you, lala, I can be myself

Just stay with me forever

My beloved


Until the last second

I’ll be smiling more tomorrow than today

Just being with you makes me feel that way

Ten years, a hundred years, a thousand years

Let’s spend the time together

I love you



Love Dya